Showing posts with label pikiran ambon_bergerak. Show all posts
Showing posts with label pikiran ambon_bergerak. Show all posts

Tuesday, April 26, 2011

Nasionalisme dan identitas Kultural (*maluku)

 

Nasionalisme pada masa penjajahan dipahami sebagai dalang dari gerakan pembebasan atau kemerdekaan Indonesia dan negara-negara koloni lainnya. Nasionalisme, baik secara politis atau filosofis, adalah kekuatan yang mengikat diri menjadi satu dalam pandangan bahwa kesejahteraan negara-bangsa adalah entitas yang paling penting. Nasionalisme mendasarkan diri pada pemikiran atau kesadaran kolektif di mana semua orang percaya bahwa kesetiaan dan tugas utama mereka adalah negara-bangsa.

Di samping itu, sejarah nasionalisme bukan sejarah tanpa sisi gelap. Nasionalisme pada sisi eksternalnya menyiratkan soperioritas kebangsaan sehingga mengutamakan kepentingan bangsa sendiri lalu mengesampingkan hak-hak bangsa lain. Hal ini cenderung menyebabkan konflik internasional. Kita bisa melihat perjalanan bangsa Israel dalam Alkitab (umat pilihan) dan pembantaian massal bangsa Yahudi oleh Nazi sebagai contohnya. Sedangkan pada sisi internalnya, nasionalisme terlampau mengutamakan ikatan bersama sebagai suatu negara-bangsa sehingga hal lain yang dianggap dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari kesadaran bersama ini tidak diizinkan. Sisi gelap nasionalisme ini memang berbahaya dan perlu dicermati secara kritis.

Sebagai negara-bangsa yang sudah merdeka dan hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain, sejauh ini kita tidak mengalami masalah yang cukup genting dengan negara-negara di sekitar kita. Namun saya kira masalah perbatasan dan klaim atas pulau-pulau terluar Indonesia perlu  dituliskan supaya kita tidak berkesimpulan bahwa kita sama sekali tidak punya masalah dengan negara-negara di sekitar kita. Kita, Indonesia, adalah bangsa yang memang cenderung tidak merasa diri superior karena itu kita tidak banyak membuat onar dunia internasional dengan sengketa-sengketa atau perang dengan bangsa lain. Dalam amatan saya, nasionalisme kita terluput dari sisi gelap eksternalnya. Kita tidak merasa superior, namun kita tetap memandang harga diri bangsa sebagai hal yang penting.

Secara initernal, ada beberapa hal yang menurut saya perlu dipandang sebagai persoalan nasionalisme kita hari ini khususnya bagi orang Maluku. Kita semua tahu bahwa pada tahun 1950, tepatnya di bulan April, Republik Maluku Selatan mendeklarasikan dirinya dengan menggalang semangat etnosentrisme. Semangat etnosentrisme ini sudah pasti mengambil latar kultur dan semangat kultural sebagai pengikat. Hal ini dapat dilihat dari nama yang dipakai yakni Republik Maluku Selatan. Daerah Maluku Selatan dalam pandangan administratif Belanda adalah wilayah yang dibagi berdasarkan kesamaan adat-istiadat dan budaya yang berada di sepanjang pesisir Selatan dan Timur Pulau Seram serta beberapa pulau lain di sekitarnya. Hal ini digunakan juga oleh para elit RMS untuk menggalang dukungan berdasarkan kesamaan tersebut. Mengambil latar belakang yang demikian, membuat budaya setempat menjadi kekuatan penting untuk mengikat dan memicu semangat ditambah dengan sedikit propaganda anti-jawa. Pada tahun yang sama RMS berhasil ditaklukkan oleh TNI setelah sebelumnya telah diupayakan berbagai jalan damai yang dimediasi oleh pemerintah RI dan Belanda.

Penjuangan untuk menjadi negara independen yang memanfaatkan energi budaya dengan penekanan pada semangat etnis ini dalam bentuknya yang konkrit menggunakan kekayaan budaya dan karena itu budaya setempat cenderung diasosiasikan dengan gerakan politis RMS. Bahasa dan idiom-idiom bahkan lagu-lagu tertentu yang sesungguhnya adalah milik masyarakat lokal telah terkena stigma hanya karena pernah digunakan oleh RMS untuk menggalang dukungan yang etnosentris. Hal ini tentu memiliki latar belakang yang lain, namun yang berdampak paling signifikan terhadap stigma ini adalah bahwa hal-hal itu pernah menjadi bagian dari pergerakan politis RMS. Kita masih beruntung, sampai hari ini masih bisa menyebut dan memperkenalkan “budaya Pela”, masih bisa menggunakan marga, dan lain sebagainya dengan bangga sebab “pela”, marga dan berbagai hal itu tidak distigma oleh kekuasaan sebagai salah satu energi budaya yang pro RMS. Padahal, J. A. Manusama salah satu tokoh kunci pergerakan RMS pun pernah menggunakan “Pela”, marga, adat-istiadat dan budaya sebagai instrumen propaganda politis RMS yang dibungkusnya dalam istilah “persaudaraan” (brothership). Berikut ini penggalan kalimat dalam pidatonya yang saya kutip dari desertasi Kathleen Therese Turner yang berjudul “Competing Myths of Nationalist Identity: Ideological Perceptions of Conflict in Ambon, Indonesia” :[1]

    “The RMS neither Islamic or Christian, because in the Moluccas the relationship between Islam and Christianity is like that of brothers, not only the pela relationship, both communities have the same family names and share the same adat-istiadat and culture.”

Kenyataan ini tentu menyisakan beban bagi kehidupan masyarakat Maluku, khususnya Maluku Tengah dan Ambon pada hari ini. Sebab bagi saya setiap orang memiliki kebutuhan akan identitas diri yang secara umum mengakar dalam budaya (bahasa, seni, agama, dlsb). Kita toh tidak akan pernah menjadi manusia Indonesia secara penuh tanpa menjadi manusia Maluku. Untuk menjadi manusia Maluku yang otentik sekarang ini kita diperhadapkan dengan rambu-rambu politik dan keamanan nasional yang cenderung menjadi lampu merah bagi berbagai upaya eksplorasi budaya dalam rangka penemuan identitas diri, sebab eksplorasi budaya sudah pasti berjumpa dengan bahasa dan adat-istiadat.

Keadaan yang demikian mencerai-beraikan kita dari budaya sendiri dan menempatkan kita pada posisi yang kehilangan identitas sebab identitas kita selalu memiliki akar dalam budaya. Apa yang membedakan kita, manusia Maluku dengan manusia Jawa atau Batak atau lainnya adalah budaya kita. Budaya kita terinternalisasi dalam kesadaran individu dan kolektif lalu mewujud dalam cara pandang, sikap dan perilaku yang sudah pasti berbeda dengan manusia lain yang juga hidup dalam budaya yang berbeda. Kenyataan yang demikian membuat saya berkesimpulan bahwa sebelum berbicara mengenai nasionalisme yang mengikat berbagai manusia dengan latar budaya dan kepentingan yang berbeda-beda ke dalam suatu kesadaran dan keyakinan bahwa negara-bangsa adalah tugas utama, maka kita perlu membersihkan budaya kita dari stigma tertentu yang merugikan diri kita sendiri sebab memiliki kesadaran dan keyakinan bersama bahwa negara-bangsa adalah yang utama dalam konteks stigma budaya semacam ini membuat kita harus terpaksa harus memilih negara atau negeri. Padahal ini adalah pilihan yang tidak wajib bagi kita, orang Maluku (dalam konteks ini, khususnya Maluku Tengah) yang hidup hari ini, sebab kita masih punya pilihan lain yang lebih bijak. Pilihan itu adalah menjadi manusia Maluku yang Indonesia sehingga kita tidak perlu berhadap-hadapan dengan negara atau negeri sendiri ketika memilih salah satu, sebab dengan menjadi benar-benar Maluku maka kita menjadi benar-benar Indonesia.

Untuk menjadi yang manusia Maluku yang Indonesia, kita perlu menjernihkan sumber identitas kita yang sejauh ini masih tercemar stigma akibat beban sejarah masa lalu sehingga kita dapat dengan leluasa mengeksplorasi, menginternalisasi, dan mengaktualisasi diri sebagai manusia Maluku yang cinta adat-istiadat dan budaya yang serentak cinta Indonesia.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

[1] Kathleen Therese Turner, “Competing Myths of Nationalist Identity: Ideological Perceptions of Conflict in Ambon Indonesia”, Murdoch University, Desertation, 2006,  hlm. 128.

as it grabed from : wesly john blog
read more "Nasionalisme dan identitas Kultural (*maluku)"

Monday, April 25, 2011

(*Perempuan Muda, Peduli Lingkungan)



 Ditulis kembali oleh @e_weslly berdasarkan 
Bold Line Script #ambonbergerak on the Radio Program *tero2_boshu - 

 Perempuan Hijau kurang pengalaman! Itulah yang kira-kira muncul dibenak banyak orang ketika mendengar kata "hijau" disandingkan dengan manusia, laki-laki atau perempuan. Ambon Bergerak on the Radio memilih topik di atas tidak dengan tendensi umum yang demikian. Perempuan Hijau dalam pandangan Ambon Bergerak adalah perempuan yang memang masih muda sekaligus perempuan yang peduli lingkungan. Topik ini secara sengaja diramu dari dua momentum besar, yakni Hari Kartini dan Hari Bumi. Jika kebanyakan orang mengatakan bahwa yang masih muda itu kurang pengalaman, maka pertanyaan yang menggugat itu adalah apakah pengalaman setiap orang dapat diperbandingkan? Tentu tidak! Pengalaman setiap orang itu sangat khusus, kita hanya bisa berbagi dan saling belajar. Perayaan Hari Kartini pada 21 April adalah bukti bahwa pengalaman setiap orang itu sangat berharga dan tidak patut diperbandingkan. Perayaan Hari Kartini sejatinya adalah perayaan pengalaman pahit dan manis seorang perempuan yang masih hijau. Sudahlah! Kita tidak perlu mendebatkan hal ini lagi. Ada yang lebih substansial yang membutuhkan energi kita.

Menyongsong Hari Kartini, apalagi pada puncak perayaannya, banyak perempuan mengenakan kebaya dan berdandan a la Kartini. Tapi, jangan kaget jika ada juga perempuan yang melupakannya atau memang masih ingat tapi tidak menganggap berdandan seperti Kartini sebagai keharusan. Ini hanyalah tampakan luar dari fakta-fakta menjelang Hari Kartini. Memang berkebaya a la Kartini bukan suatu keharusan bagi perempuan yang hidup hari ini. Hal yang lebih penting adalah memahami secara mendalam dan menginternalisasi hakikat dan nilai-nilai dari perjuangan Raden Ajeng  Kartini agar dapat menjadi semangat dan inspirasi untuk terus berkarya dan membentuk karakter.

Tentang perayaan Hari Kartini yang tidak lain adalah perayaan pengalaman hidup dan perjuangannya, kita patut bertanya: "Mengapa R. A. Kartini? Mengapa bukan perempuan lain yang juga turut berjuang bagi bangsa Indonesia?"  Kartini menjadi pahlawan sekaligus ikon perjuangan perempuan karena beberapa hal. Pertama, Ia seorang pembaca dan penulis. Berbagai buku bahkan surat kabar pun tidak luput dari kegemarannya membaca. Sebagai seorang penulis, pemikirannya bisa dirunut. Ia merupakan model perempuan yang emansipatif yang memilih berjuang dari sisi yang unik. Perjuangannya adalah perjuangan intelektual. Kedua, Ia sangat prihatin dan fokus pada persoalan perempuan sebagai yang utama dalam perjuangan idenya. Ketidakadilan terhadap perempuan, pembatasan hak-hak perempuan, pendidikan terhadap perempuan dan sebagainya, serta hal-hal lain yang juga ditulisnya. Ia masih hijau saat melakukan itu semua!

Di atas adalah sekilas perjuangan Kartini yang hidup ratusan tahun yang lalu di kota Jepara lalu pindah ke Rembang. Sekarang, bagaimana dengan perempuan-perempuan hijau yang merayakan Hari Kartini di Maluku? Sekalipun mengalami problematika politik yang sama pada saat penjajahan, namun Maluku sudah pasti memiliki konteks sosial dan budaya yang berbeda dengan yang dihadapi Kartini di Pulau Jawa pada masa itu, maupun pada masa sekarang ini. Kita bahas sedikit tentang dunia sosial dan budaya masyarakat Maluku tempat perempuan-perempuan hijau sekarang ini hidup. Budaya masyarakat Maluku pada dasarnya patriarki. Banyak hal-hal bernilai yang tidak menjadi hak perempuan. Misalnya, kepemilikan tanah, kepemimpinan dalam struktur adat, dan sebagainya. Namun, persoalan persamaan hak sebagaimana untuk berpartisipasi di ruang-ruang publik tidak lagi menjadi persoalan yang signifikan bagi perempuan di Maluku. Banyak perempuan di Maluku yang berpendidikan tinggi bahkan menjadi pemimpin organisasi masyarakat dan partai politik dalam kurun waktu yang berdekatan dengan Kartin, misalnya Ina Bala Wattimena. Pendiri Ina Tuni dan pemimpin Sarekat Ambon ketika AY Patty ditahan. Dalam usia yang sangat muda, Ina Bala memimpin partai. Tidak ada budaya atau pun konstruksi sosial yang memengaruhi masyarakat secara massal untuk membatasi anak-anak perempuan dalam hal mengecap pendidikan dan turut serta memimpin. Sampai pada hari ini pun tidak ada persoalan emansipasi yang signifikan dalam struktur budaya dan konstruksi sosial di Maluku. Sejak dulu kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk perempuan-perempuan maluku untuk mengecap pendidikan, berkarier, dan seterusnya. Ada banyak perempuan muda yang terlibat memimpin berbagai LSM, Menjabat posisi penting di pemerintahan, berprestasi di bidang seni dan olah raga, dan sebagainya.

Jika memang emansipasi tidak lagi menjadi persoalan yang signifikan bagi perempuan di Maluku, lantas apa yang bisa dijadikan pelajaran dari potret seorang Kartini? Jawabannya sederhana: "Kepekaan dan semangatnya!" Pada bagian awal telah disebutkan bahwa perempuan hijau menunjuk pada perempuan yang masih muda dan perempuan yang peduli lingkungan. Berkenaan dengan perayaan Hari Bumi yang beriringan dengan Hari Kartini, maka Ambon Bergerak memilih mengedepankan kepekaan dan semangat Kartini sebagai energi untuk mendorong perempuan-perempuan muda di Maluku untuk peduli lingkungan hidup. Pilihan untuk prihatin kepada lingkungan hidup tidak muncul begitu saja karena bertepatan dengan Hari Bumi, namun lebih merupakan permasalahn aktual yang memang memerlukan perhatian serius.

Dalam kerangka itu, maka hal penting untuk digalang adalah bagaimana perempuan-perempuan muda di Maluku dengan kebebasan berkarya dan berkreasi turut menyumbang bagi pelestarian lingkungan hidup. Ada beberapa contoh baik yang bisa memberi inspirasi atau menjadi teladan. Misalnya, gerakan Diet Kresek untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengatasi sampah plastik atau gerakan Mari Berkebun untuk menjaga dan melestarikan alam, dan lainnya. Dalam konteks kota Ambon yang salah satu masalahnya adalah sampah, maka ada banyak hal yang bisa dikreasi untuk membantu mengatasinya. Sebut saja Gerakan Kalesang Kintal. Gerakan Kalesang Kintal ini adalah gerakan yang dalam skala paling kecil dimulai dari diri dan pekarangan rumah sendiri. Ada banyak fakta sejarah yang bisa dijadikan bukti bahwa perempuan memang sangat peduli pada lingkungan hidup. Jadi, Ambon Bergerak mengajak semua perempuan muda di Maluku untuk menghayati semangat dan kepekaan Kartini agar peka terhadap berbagai persoalan, salah satunya adalah persoalan lingkungan hidup lalu melakukan sesuatu mulai dari diri dan rumah sendiri dan jadilah perempuan hijau. Perempuan muda, peduli lingkungan!

----------------
To Abang Bur, Ipeh, Iphan, &  "Abang" : Tolong komentar (koreksi/tambal/skap/sulam), ok? Beta catat lari-lari saja, seng iko kuliah hari itu bae2 jadi.
read more "(*Perempuan Muda, Peduli Lingkungan)"

Thursday, April 7, 2011

Sekelumit tentang topik Ruang Terbuka Publik d #ambonbergeraOntheRadio


oleh Weslly Johanes :
(menukil script siaran kemarin)



Orang-orang muda di kota Ambon Manise adalah orang-orang yang memiliki daya cipta (kreativitas). Ini bukan opini melainkan pengakuan dari orang-orang muda itu sendiri maupun orang lain yang mengamati fakta bahwa orang-orang muda di kota ini memang memilikinya. Namun, kreativitas orang-orang muda di kota ini sepertinya terkendala dengan banyak persoalan sehingga belum begitu tampak dan karena itu kurang berdampak. Memang ada banyak persoalan terkait ini, namun satu hal yang dipandang menarik untuk diperbincangkan adalah "ruang terbuka publik". Ini jadi topik perbincangan Ambon Bergerak on the Radio, Selasa, 5 April 2011 kemarin.

Ruang terbuka publik yang dimaksudkan dalam perbincangan Ambon Bergerak on the Radio adalah ruang terbuka publik yang umumnya terletak di pusat kota. Ruang terbuka publik adalah ruang terbuka yang dengan sengaja disediakan oleh pemerintah kota untuk publik sebagai media yang diharapkan dapat menjawab beberapa kebutuhan umum, antara lain: kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, kebutuhan untuk berada dekat dengan alam (beratap langit, berlantai tanah, hembusan angin, dll), kebutuhan rekreasi, dan yang terakhir yang menjadi keprihatinan Ambon Bergerak on the Radio adalah kebutuhan untuk berkreasi (mengekspresikan diri kepada orang lain, juga kepada Tuhan) sebagai wujud kepedulian. 

Mengekspresikan diri tentu terkait dengan wujud kreativitas: seni, sastra, budaya, olahraga dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan mendasar dari masyarakat kota inilah yang diperbincangkan secara luas dan dalam untuk menjawab pertanyaan besar di awal perbincangan, yakni mengapa masyarakat kota Ambon Manise, secara khusus orang-orang muda, membutuhkan ruang terbuka publik?

Dapat dikatakan bahwa di kota Ambon ada ruang terbuka publik yang disediakan pemerintah kota. Salah satu di antaranya adalah Pattimura Park. Tempat ini dapat disebut ruang terbuka publik dengan beberapa alasan, yakni : terletak di pusat kota, dekat dengan simpul-simpul transportasi, berupa ruang terbuka yang cukup luas, cenderung menjadi pusat kegiatan publik di pusat kota, cenderung menjadi pilihan masyarakat kota untuk tempat berkumpul, di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan publik dan atau bangunan religius, mempunyai nilai sejarah yang kadangkala direpresentasikan oleh suatu monumen, misalnya patung Pattimura yang berdiri di tengah Pattimura Park atau World Peace Gong yang dipancang tidak jauh dari situ.

Ruang terbuka publik yang tersedia di kota Ambon Manise, misalnya Pattimura Park dan Monumen Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong) dalam kenyataannya mengalami berbagai persoalan dalam proses pemanfaatannya sebagai media berkreasi. Persoalan-persoalan itu bisa muncul dari berbagai kekurangan, antara lain : fasilitas, sarana dan prasarana, dan soal legalitas peraturan daerah. Di sisi yang lain, kesadaran masyarakat terkait pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai media untuk berkreasi pun masih belum kelihatan. Memang hal ini perlu proses panjang sebab budaya pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai media untuk berkreasi itu tidak tercipta secara instan melainkan berkembang seiring perubahan di berbagai segi kehidupan dan tergantung pada seberapa keras upaya menuntun perubahan ke arah pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai media untuk berkreasi.

Demikianlah ruang terbuka publik dalam kaitannya dengan ekspresi diri orang-orang muda di kota Ambon tetap menjadi persoalan sebab ada banyak fakta yang sebenarnya membuat orang-orang muda harus berkesimpulan bahwa ruang itu bukan ruang terbuka publik melainkan semi ruang terbuka publik. Artinya, terbuka untuk siapa saja tetapi harus membayar. Di samping itu, pemanfaatannya sebagai tempat orang-orang muda untuk mengekspresikan diri (berkreasi) menjadi sangat jarang karena proses pengurusan ijin penggunaan yang cenderung sulit (menurut banyak orang-orang muda) dan harus membayar.

Hal ini mungkin berakar pada dugaan yang kuat bahwa orang-orang muda cenderung tidak bertanggungjawab (buang sampah sembarangan, dsb.). Hal lainnya yang menjadi hambatan bagi pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai media untuk berkreasi adalah orang-orang muda itu sendiri. Mereka  cenderung memilih tempat lain untuk berkreasi karena enggan berurusan dengan pihak pemerintah, walaupun harus membayar lebih mahal atau bahkan terpaksa membatalkan kegiatan. Ada pula kesan diskriminatif terkait kesediaan ruang terbuka publik,  misalnya fasilitas untuk orang-orang muda yang hobinya olahraga (basket dan volly) disediakan, sedangkan untuk yang lain tidak. Lebih lanjut, orang-orang muda yang hobinya olahraga bisa dengan leluasa menggunakannya ruang terbuka publik tanpa perlu ijin apalagi membayar. Kesan diskriminatif ini tentu mengindikasikan bahwa perencanaan dan kebijakan terkait pemanfaatan ruang terbuka publik ini tidak pro kreativitas.

Di akhir perbincangan tentang ruang terbuka publik di kota Ambon dan berbagai persoalan sekitar pemanfaatannya sebagai media berkreasi maka muncul dan berkembang dua pemikiran solutif. Pertama, mendorong orang-orang muda untuk memanfaatkan ruang terbuka publik sebagai media untuk berkreasi dan pada saat yang sama mendorong juga pemerintah untuk memperhatikan kebijakan atau keputusan terkait pemanfaatan ruang terbuka publik yang tidak pro kreativitas, sebab pada dasarnya manusia atau masyarakat adalah elemen utama yang harus diperhatikan kebutuhannya dalam suatu ruang terbuka publik. Kedua, menciptakan sendiri atau memanfaatkan area-area terbuka sebagai tempat-tempat alternatif untuk berkreasi. Semua ini bisa terjadi jika orang-orang muda merasa bahwa ini penting karena ini kebutuhan kita sekarang dan mau terus berkreasi tanpa takut tantangan. Mari maju dengan berkreasi dalam satu semangat Ambon bergerak untuk kehidupan yang lebih baik!

read more "Sekelumit tentang topik Ruang Terbuka Publik d #ambonbergeraOntheRadio"

Wednesday, April 6, 2011

Membumikan Gerakan Sosial di Ambon (sedikit ttg 1st class #akberambon)

  Gerakan sosial media yang dibangun secara online di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia telah menjadi fenomena baru. Simak saja, gerakan sosial Koin untuk Prita dan Koin untuk perubahan yang telah menuai kesuksesan. Lantas, bagaimana dengan gerakan sosial melalui jejaring sosial media di Maluku, khususnya Ambon?

laporan oleh : Rifky santiago (arumbai blogger community)

 “apa itu sosial media dan mengapa kita harus peduli?”




Kalimat ini dilontarkan M. Burhanudin Borut ketika menjadi fasilitator pada kelas perdana Akademi Berbagi Ambon (Akber Ambon) yang digelar, 25 Maret 2011. Borut kemudian melanjutkan, bahwa sosial media merupakan aktivitas online nomor satu di dunia menggeser akses konten porno dan layanan surat elektornik pribadi atau personal email.
“setidaknya ada 10 alasan mengapa kita harus peduli pada sosial media sekarang ini. Salah satu alasan yang cukup signifikan, bahwa 2/3 populasi pengguna internet di dunia mengunjungi sosial media,” jelas Borut yang juga aktivis Ambon Bergerak ini.
Borut kemudian melanjutkan dengan sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana dengan pengguna sosial media di Ambon?

“Hampir 25 sampai 29 persen penduduk kota Ambon di usia aktif pengguna soc med (17-35 thn) menggunakan Facebook. Sementara untuk pengguna Twitter , kota Ambon meraup 0,35 persen dari pengguna aktif di Indonesia. Ini jika asumsi 0,3 persen pengguna Facebook dan Twitter di Ternate sama dengan di Ambon,” terang Borut, mengutip sumber saling-silang.com yang kerap melakukan penelitian tentang pengguna internet aktif di Indonesia.
Menurut Borut, Perkembangan teknologi yang makin tinggi dan makin murah mendorong kecenderungan manusia berkomunikasi dan menciptakan identitas-identitas tertentu lewat media tekhnologi online. Lebih dari itu, sosial media juga memberi kemudahan menjangkau lebih banyak orang dengan waktu yang lebih singkat & transparansi.

“dengan pengguna lebih dari 100 ribu untuk akun aktif facebook dan 17 ribu untuk pengguna twitter, ada potensi yang sangat besar untuk memanfaatkan sosial media sebagai sarana membangun gerakan dan menjangkau lebih banyak orang secara efektif di ambon. Dan ini masih bisa bertambah,” ungkapnya.

Dari paper yang dipresentasikan Borut terlihat beragam penggunaan sosial media di Ambon, seperti sosial media untuk pergerakan, sosial media sebagai tempat berkumpul komunitas tertentu dan sosial media sebagai sarana pemasaran produk lokal.
“sisanya, ya kita-kita ini. Penggunna alay, ababil dan pencari teman. Sudah saatnya kita menjadikan sosial media sebagai sebuah base untuk menghimpun ide dan gagasan dalam menanggapi masalah-masalah sosial,”

Menanggapi hal ini, Suhfi Majid, Ketua Komisi D DPRD Maluku, yang turut hadir dalam kegiatan ini menjelaskan, trend perkembangan teknologi informasi memang membawa pengaruh besar terhadap model komunikasi masyarakat. Pemanfaatan jejaring sosial media menjadi tren baru di belahan dunia termasuk di Ambon.
“internet telah menghasilkan revolusi komunikasi masyarakat. dan jejaring media sosial memberi sumbangsih terhadap revolusi komunikasi,” ujar Majid, yang juga seorang blogger aktif.

Blog dan Gerakan Sosial
Almascatie, penggagas Komunitas Blogger Maluku yang juga salah seorang fasilitator pada kelas Akber Ambon menjelaskan, fenomena-fenomena gerakan yang dibangun melalui sosial media selalu didominasi oleh blog. Dirinya menyebutkan setidaknya ada lima fase dimana gerakan sosial media diorganisir melalui blog.

“Fase pertama, dimulai pada 2006. Gerakan sosial media melalui blog ini digelar untuk mengkampanyekan penghentian pungli oleh dokter. Kampanye ini dibuat masih berupa himbauan dari tulisan pribadi dengan tulisan dan sedikit gambar, di bawah slogan ‘Dokter Jangan Pungli’. Fase kedua masih sama walau dengan isu yang berbeda. Nah, setelah fase ketiga, gerakan sosial ini berbuah menjadi sebuah gerakan nyata, meski diorganisir melalui dunia maya. Contohnya kampanye koin untuk kasus prita dan koin untuk perubahan, “ jelasnya.

Menurut Almascatie, blog sebagai sosial media, memungkinkan terjadinya interaksi antara pembaca dan pembuat blog. sehingga Informasi yang disampaikan akan langsung direspon, ditambahi, dikoreksi dan diperkaya oleh orang lain. “tapi pengaruh buruknya juga banyak. Penyalahgunaan fungsi dan penyebab banyaknya sampah digital merupakan pengaruh buruk yang cukup signifikan hingga kini”, katanya.

Dalam konteks lokal, Almascatie menilai, pengunaan blog sebagai gerakan sosial yang berdampak positif bagi Ambon masih sangat minim. Hal ini dibuktikan dengan hasil pencarian melalui search engine google dengan menggunakan keyword ‘ambon’
“kalau mengetik kata kunci ‘ambon’ di mesin pencari google kita akan menemukan sesuatu yang aneh disana. Kerusuhan Ambon sudah terjadi sekitar 12 tahun lalu, tapi di internet masih menyarankan pencarian tentang Kerusuhan Ambon,” sesalnya.

@almascatie kemudian mengusulkan kepada masyarakat Maluku khususnya Ambon agar mengisi konten internet mereka dengan gambar atau tulisan yang berkaitan dengan keindahan ambon. “Dengan banyaknya konten lokal tentang Ambon/Maluku di Internet diharapkan mampu mendorong hal-hal yang berbau kerusuhan / tragedi berdarah itu bisa terdorong sampai ke halaman akhir dari Google atau mesin pencari lain” ungkapnya.

Dari Maya ke Dunia Nyata

Walau bekerja, menggorganisasikan pikiran dan pendapat serta pengalaman melalui sosial media secara online, esensi sebuah gerakan tetaplah sebuah tindakan nyata. Hal ini dibenarkan oleh Burhanudian Borut, “integritas sebuah gerakan, bukan hanya di sosial media. Tapi yang terutama adalah dalam kehidupan nyata. jadi, selalu coba untuk rekonek dengan sesama pengguna sosial media di dunia nyata. Contohnya seperti bikin kopi darat (kopdar)”. Ungkapnya. Senada dengan Borut, Suhfi Majid menerangkan, pada saatnya komunitas-komunitas yang berbasis di dunia maya ini, perlu memperluas ruang gerak pada aksi nyata dan ide-ide yang lebih besar.

“ide memperkenalkan Maluku dengan potensi pariwisatanya, aman untuk investasi dan ide besar lainnya, sangat mungkin dapat dipromosikan lewat jejaring sosial, karena jangkaunnya tanpa batas”. Majid juga mengharapkan agar pemerintah daerah mengapresiasi gerakan-gerakan melalui sosial media yang terjadi di Maluku. “Selayaknya pemerintah daerah memberikan apreasiasi terhadap mereka. Bahkan bisa dijadikan sebagai mitra mempromosikan Maluku,” harapnya.
read more "Membumikan Gerakan Sosial di Ambon (sedikit ttg 1st class #akberambon)"

Monday, February 28, 2011

Laeng sayang Laeng VS Katong deng Katong (*)


Refleksi atas Kehidupan Bersama di Maluku
oleh : Weslly Johanes

Kata ini mungkin sudah seringkali kita dengar, "sayang". Semua orang pasti pernah bahkan sering mendengar kata itu bukan? Bukan hanya mendengar, anda barangkali baru saja mengucapkannya pada kekasih hati anda. Di Maluku, kata itu selalu diungkapkan dalam pemaknaan yang korelasional. Orang Maluku biasanya bilang begini : "Laeng sayang laeng", "baku sayang", dan sebagainya. Pokoknya selalu diungkapkan secara korelasional. Pernahkah anda memikirkan apa yang terkandung dalam ungkapan yang biasa kita dengar itu? Pasti pernah bukan? Apa yang anda temukan? Saya harap nanti bisa dibagikan! Tapi kali ini saya ingin membagi kepada anda tentang bagaimana saya, sebagai anak Maluku, memahaminya.


"Laeng sayang laeng" adalah ungkapan yang sering kita dengar! Namun, pernahkah anda bertanya : "Mengapa tidak dikatakan saja seperti ini "yang sama sayang yang sama"? Mengapa harus "laeng"? Tentu ada makna di sana. Sabar dulu, setelah ini akan saya ulas.  Ungkapan lain yang sering kita dengar juga adalah  "Katong deng katong" dan "Katong deng Katang". Anda pernah dengar? atau jangan-jangan anda sendiri pernah mengucapkannya? Tidak perlu malu untuk jujur, saya juga pernah mengucapkannya. Anda tentu pernah dengar atau mungkin mengucapkannya, ini kesimpulan sementara saya. Hal ini juga  akan saya ulas dalam tulisan reflektif ini. Mari mulai dengan yang pertama!

"Laeng Sayang Laeng"

Ungkapan "laeng sayang laeng" atau "baku sayang" ini selain bermakna saling berbuat baik secara murni, ia lebih  menunjuk pada kondisi hidup yang seharusnya. Jika saat ini anda sedang bermusuhan dengan tetangga anda, maka secara eksplisit ungkapan ini adalah perintah untuk berdamai. Namun, jika dipahami secara esensial maka ungkapan "laeng sayang laeng" sebenarnya sedang mengajak anda untuk sadar bahwa keadaan bermusuhan bukanlah keadaan yang harus dibiarkan. Mungkin ia bisa terjadi, tapi tidak boleh dibiarkan, apalagi sampai berlarut-larut.  Ungkapan "laeng sayang laeng" menegaskan bahwa keadaan bermusuhan harus dieliminir dari kehidupan, menuju kondisi hidup yang seharusnya. Jadi,  kehidupan ideal yang di dalamnya semua orang saling sayang adalah esensi ungkapan "laeng sayang laeng".

Sekarang kita sudah tahu bahwa kehidupan yang di dalamnya setiap orang saling sayang adalah esensi dari ungkapan "laeng sayang laeng". Anda pasti bertanya-tanya. Bagaimana kita bisa mewujudkan kondisi hidup yang demikian? Jawabannya ada dalam pemaknaan terhadap ungkapan ini sendiri. Saya akan mengajak anda melihat setiap kata yang membangun ungkapan itu. Kata pertama dan terakhir adalah kata yang sama, yakni "laeng". Kata yang lain adalah kata "sayang".  Jadi, kata yang akan saya ulas lebih dulu, anda pasti sudah tahu. Kata itu adalah "laeng". Kata "laeng" menunjuk pada manusia Maluku yang berbeda-beda. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda bahasa, dan sebagainya. Jadi, kata "laeng" sebenarnya menegaskan terpeliharanya identitas masyarakat Maluku yang beragam.  Kata ini menegaskan bahwa setiap individu adalah berbeda dan unik. Individu-individu yang berbeda inilah yang harus bertanggungjawab membangun kehidupan yang harmonis. Nah, bagaimana kemudian masyarakat Maluku yang berbeda-beda ini bisa terintegrasi ke dalam suatu tatanan kehidupan bersama yang harmonis? Atau bagaimana individu-individu yang berbeda-beda ini bisa membangun kehidupan yang harmonis? Jawabannya ada pada kata yang kedua, "sayang".

Kata "sayang" dalam ungkapan "laeng sayang laeng" harus dimaknai dalam konteks ungkapannya. Seperti yang sudah saya katakan lebih awal, bahwa kata ini selalu diungkapkan dalam pemaknaan yang korelasional. Kata ini selalu dimaknai dalam hubungan yang timbal balik. Tidak boleh bertepuk sebelah tangan, melainkan harus bagai gayung bersambut. Kata "sayang" menunjuk pada relasi yang saling membutuhkan. Bukankah anda membutuhkan orang lain untuk hidup? Kita semua beroleh kesempatan untuk hidup yang adalah hasil dari suatu relasi. Relasi ayah dan ibu kita. Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, kita semua membutuhkan orang lain. Tanpa relasi, anda kehilangan kehidupan! Selain menunjuk pada relasi, kata "sayang" juga menunjuk pada kemurnian relasi tadi. Relasi timbal-balik yang tercipta harus sebagai akibat dari rasa sayang, bukan sekadar membutuhkan orang lain untuk tetap bertahan hidup. Relasi yang murni atas dasar rasa sayang yang timbal balik. Relasi yang dua arah.

Relasi yang berkualitas adalah relasi yang, salah satunya, harus berlangsung dua arah, timbal balik. Jika harus dua arah, maka kita akan bertanya dengan siapa kita harus membangun relasi? Jawaban yang ditemukan dari pemaknaan terhadap ungkapan "laeng sayang laeng" membuat saya tercengang. Anda ingin tahu? Pasti anda ingin tahu! Jawabannya adalah anda dan saya harus membina relasi yang murni atas dasar rasa sayang dengan orang-orang yang sama sekali berbeda dengan kita. Mengapa harus orang-orang yang berbeda? Mencari jawaban atas pertanyaan ini akan membuat kita menemukan dan mengakui betapa bijaksananya "orang tatua/leluhur" kita dalam membangun ide-ide yang pro hidup. Orang tatua/leluhur masyarakat Maluku sejak semulanya sudah memahami dan mengenal secara mendalam karakteristik masyarakat Maluku yang berbeda-beda (suku, agama, bahasa, dll) dan karena itu majemuk/plural. Dari kenyataan yang majemuk, yang kaya dengan perbedaan-perbedaan ini, orang tatua belajar untuk hidup bersama dengan harmonis. Dari proses belajar yang panjang inilah jawaban kita tadi ditemukan. Bahwa demi terciptanya kehidupan yang harmonis di Maluku, setiap manusianya harus membina relasi yang murni atas dasar rasa sayang dengan setiap manusia lainnya yang sudah pasti berbeda dengan dirinya, "laeng sayang laeng", bahkan sang liyan sayang sang liyan. Manusia-manusia yang berbeda-beda itu harus "baku sayang". Relasi yang demikian adalah relasi yang bersifat terbuka. Hal semacam ini yang belakangan populer dengan sebutan local wisdom (Kearifan lokal) dan Kearifan lokal selalu lahir dari pengalaman bersama. Tentu anda tidak perlu lagi bertanya, "Mengapa hal semacam ini disebut kearifan lokal sebab Anda pasti sudah punya jawabannya setelah membaca sampai di sini. Jadi, kita lanjutkan ke ungkapan yang kedua (Katong deng Katong)yang akan saya ulas berhadap-hadapan dengan ungkapan yang pertama ini.


“Katong deng Katong”

Jika ungkapan yang pertama tadi (Laeng sayang Laeng) kita sebut sebagai salah satu ungkapan yang lahir dari kearifan lokal orang tatua, maka tentang ungkapan yang kedua ini (Katong deng Katong) saya sendiri bingung mau menyebutnya apa. Baik, sebelum kita bersepakat tentang sebutan yang cocok untuk ungkapan yang kedua ini, maka kita perlu memahaminya terlebih dulu.

Dalam kehidupan bermasyarakat di Maluku, ungkapan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan keterikatan suatu komunitas atas dasar kesamaan dan serentak menunjukkan keberpihakan. Jadi, kata “katong” pada awal ungkapan dan kata “katong” pada bagian akhir ungkapan menunjuk pada kesamaan tertentu antara individu yang mengucapkan dengan individu lain yang mendengarnya. “Katong deng Katong” dapat diartikan sebagai “sesama” dalam artinya yang sempit. Bisa jadi orang-orang yang se-profesi atau se-negeri atau yang se-agama. Dalam pengertian yang begini maka akan mudah dibayangkan bagaimana ungkapan ini beroperasi. Anda pasti sudah tahu! Komunitas yang sering mengucapkan ungkapan ini dengan sengaja hendak mempererat hubungan dengan ‘sesama’nya dan serentak memperlihatkan perbedaan dengan yang lain yang berbeda dan  pada akhirnya bermuara pada keberpihakan atas dasar ‘kesamaan’ tadi.

“Katong deng Katong” adalah ungkapan yang dengan sengaja diciptakan untuk mengambarkan beberapa hal. Pertama, proses identifikasi diri. Kedua, pola relasi yang terbatas dan kuat, serta yang ketiga adalah keberpihakan yang tidak kritis. Saya akan mengulasnya satu demi satu dengan tetap berasumsi bahwa  semua kata dalam ungkapan ini harus dipahami dalam konteksnya.

Ungkapan ini sering muncul pada saat di mana seseorang atau sekelompok orang membutuhkan dukungan dari individu atau kelompok yang adalah ‘sesama’nya. Baik dalam bentuk penerimaan (identifikasi), relasi, maupun keberpihakkan. Dengan mengatakan “katong deng katong” maka orang atau sekelompok orang yang berupaya memperoleh dukungan ini sedang membuat individu atau kelompok yang mendengar harus mendukungnya atas dasar kesamaan yang dimiliki, apa pun alasannya. Sekali pun orang atau sekelompok orang tersebut memang tidak seharusnya didukung. Jadi, relasi yang tercipta adalah relasi atas dasar kesamaan tertentu dan keberpihakan yang muncul adalah atas dasar kesamaan itu juga.

Dalam cakupan yang lebih luas, ungkapan ini terkadang dipakai juga untuk tujuan yang tidak konstruktif bahkan destruktif, misalnya : saya ditilang seorang polisi lalu lintas karena melanggar aturan, tapi kemudian saya dengan mudahnya bisa bebas hanya karena saya ditahan oleh seorang polisi yang kebetulan berasal dari negeri yang sama. Contoh lain yang lebih mengerikan adalah pengalaman kita. Konflik yang menjerumuskan kita dalam tindakan saling bunuh dan sama-sama menderita ternyata membutuhkan ungkapan “katong deng katong” untuk menggalang dukungan dan kekuatan. Orang harus berpihak kepada orang-orang yang memiliki agama yang sama dan harus melawan orang-orang yang berbeda agamanya. Ungkapan ini memang cenderung negatif. Kecenderungan yang tidak sehat pada ungkapan “katong deng katong” diperkuat dengan munculnya ungkapan lain yang secara khusus bertujuan untuk membedakan secara tajam dan melecehkan, yakni “katong deng katang”. “Katong deng Katang” secara hurufiah berarti “kita dengan kepiting”. Supaya anda mudah saja memahaminya, saya berikan contoh! Saya dicaci-maki dan dipukul oleh teman sekampung. Lantas ada seorang lagi sahabat saya, juga sekampung, datang dan bilang begini: “Eh, katong deng katong tidak boleh begitu, barangkali katong deng katang boleh!”. Artinya, tindakan mencaci-maki dan memukul tadi tidak pantas dilakukan kepada saya, bukan karena tindakan mencaci-maki dan memukul itu tidak baik, melainkan tindakan-tindakan itu kebetulan salah sasaran. Jadi, orang lain, yang tidak ‘sama’ boleh atau pantas dicaci-maki dan dipukul hanya karena tidak sama, katong deng katang ! Hanya karena berbeda orang pantas dicaci-maki atau dipukul. Dari semua contoh ini tergambar jelas  bahwa ungkapan ini lebih sering  bertendensi negatif dan memicu munculnya keberpihakan yang tidak kritis. Hal inilah yang membuat banyak hal buruk dilakukan dengan alasan membela dan berpihak kepada orang yang  memiliki ‘kesamaan’ dengan kita, apalagi sudah ada pembedaan yang jelas tentang bagaimana sepatutnya bersikap kepada orang-orang yang memiliki kesamaan (“katong deng katong”) dan bagaimana seharusnya bersikap kepada orang yang tidak sama (“katong deng katang”).

"Katong deng Katong" mungkin berguna untuk memupuk integrasi komunitas tertentu, kesadaran yang ditumbuhkan cenderung sempit dan masyarakat cenderung dikotak-kotakan ke dalam komunitas yang lebih kecil lagi sehingga yang tercipta adalah kebalikannya, disintegrasi dan yang lebih parah lagi, semua ini  berakar pada sesuatu yang tidak substansial, yang tidak lebih mulia dari kemanusiaan dan rasa sayang tulus. Konsep sesama dalam ungkapan "katong deng katong" ditandai dengan homogenitas dan jika relasi dan keberpihakan dibangun atas dasar ini maka relasi dan keberpihakan yang tercipta adalah serangkaian tindakan yang tidak kritis yang lahir dari kesadaran yang keliru, bahkan dapat berupa penyangkalan terhadap realitas Maluku yang plural.

Saya sudah membagikan kepada anda apa yang saya punya dan sekarang giliran anda. Bukankah relasi yang baik itu, salah satunya, harus timbal-balik? Lagipula, bukankah kita belum bersepakat tentang sebutan yang tepat untuk ungkapan yang kedua ini? Tulisan ini akan selesai dalam beberapa kalimat lagi dan sebelum selesai, izinkan saya untuk mengatakan dengan tulus kepada anda sekalian : “Mari… katong laeng sayang laeng!

---------------------------
[*] “Laeng sayang Laeng” secara hurufiah berarti “Lain sayang Lain”, sedangkan “Katong deng Katong” secara hurufiah berarti “Kita dengan Kita”.
read more "Laeng sayang Laeng VS Katong deng Katong (*)"

Monday, November 15, 2010

Why we are so politics in AMBON ?


Why we are so politics ?. Judul itu adalah topik diskusi yang melompat-lompat dan tanpa arah dengan beberapa orang teman setelah break siaran radio beberapa tahun yang lalu. Hari ini topik diskusi yang disebabkan oleh dipenuhinya rumah kopi oleh aktivis-aktivis LIPI (lembaga isu dan pengembangan informasi. gosip red) itu terngiang kembali setelah membaca komentar skeptis seorang teman di page AMBON BERGERAK tentang apakah AMBON BERGERAK tidak ada hubungannya dengan kekuatan politik tertentu menjelang musim pilkada di kota Ambon (*teman itu sepertinya ga terlalu percaya dengan tulisan  bahwa Ambon bergerak bukan gerakan politik)
Well, even we all knowed how to answer that question. Pertanyaan itu basicly memang warning us and knock us in the head to stayed focus for our objectives on this campaign.  Kami menjadi lebih aware dan kemudian sadar bahwa kami memang harus mengkampanyekan semangat ini terus menerus. percaya atau tidak kompleks politik yang terlalu besar dalam cara berpikir orang Ambon dan tak terkecuali juga orang muda ambon adalah salah satu alasan mengapa kami mengkampanyekan Ambon bergerak

But just for our consideration, AMBON BERGERAK pada dasarnya ga sama sekali alergi sama politik. We’re not a bunch of young man who don’t even give a damn with politics. Bahkan kami sangat aware dengan keadaan dimana politik adalah sebuah realitas yang tak bisa dibantah. But the problem is, kami juga orang-orang muda yang ga terlalu senang dengan keadaan dimana masyarakat dan orang muda telah  so in to the dark side of politics dan lantas lupa bahwa ke turutsertaannya dalam politik sebagai masyarakat  dan terutama orang muda juga mengandung kewajiban untuk mewarnai politik dengan semangat orang muda yang dinamis, segar, kreatif, inovatif dan selalu mencari dan mewujudkan sesuatu ke arah yang lebih baik.

Ambon bergerak dalam kerangka kampanye perubahan pola pikir memang hendak menjadi semangat yang mendorong kekhawatiran terhadap kompleks politik yang telah terlalu merasuk hingga akhirnya mereduksi kepedulian, kreativitas atau apapun ekspresi budaya sebagai sesuatu yang orisinil. Kami khawatir ketika orang muda melupakan kreativitas sebagai sesuatu yang orisinil dan secara genuine memang merupakan domain orang muda hanya karena sejauh yang dapat dia amati pada realitas tertentu, kepedulian dan kreativitas hanya bisa didorong oleh kemampuan finansial politis. terlebih ketika musim pilkada hendak menjelang. pendeknya semangat ini (ambon bergerak.red) hendak membuat kita melihat terlalu politisnya kondisi hidup di Ambon sebagai sebuah masalah. 

Sangat politisnya kehidupan sosial di kota ini adalah realitas yang secara sederhana sebenarnya sangat tergambarkan pada pertanyaan teman di fan page ambon bergerak itu. Skeptisismenya terhadap gerakan yang menggunakan Ambon sebagai embel-embelnya secara tidak langsung mengisyaratkan betapa Ambon itu sendiri sudah menjadi sangat politis.

kita kemudian lalu pantas bertanya tentang mengapa Ambon menjadi sangat politis.

Secara sederhana Ambon yang menjadi sangat politis adalah akibat dari berbagai macam alasan. Kita bisa saja menyebut, alasan historis, faktor demografis atau budaya bahkan juga proses demokrasi sebagai sebabnya, namun bagi kami yang terutama sepertinya tetaplah alasan ekonomi (terutama akhir-akhir ini).Yup, like what meja said , it is all (*again) about money.

Diakui atau tidak, satu-satunya penyumbang terbesar konsumsi ekonomi di kota ini adalah pemerintah (baik kota maupun propinsi). dan karena selain Pemerintah tak ada lagi sektor riil dan usaha swasta besar yang benar-benar bisa menyumbang pendapatan dan mendorong konsumsi masyarakat. maka masyarakat menjadi sangat terikat dengan pemerintah dan tentunya juga dengan politik. Secara langsung ada hampir lebih dari 70 ribu (peg dan anak-anaknya. please do the math by your self ) yang terkait langsung dengan aktivitas pendapatan untuk konsumsi yang berasal dari pemerintah. Belum turunannya seperti  pihak ketiga (perusahaan dan kontraktor) dan pekerja sektor informal yang berebut embun konsumsi dari belanja pegawai dan pemerintah itu. Kira-kira hampir lebih dari 85 persen penduduk kota Ambon (yang sekitar 300 ribuan jiwa itu) terkait dengan konsumsi pemerintah. Otomotis hanya dengan melihat jumlah itu saja, kita secara sederhana bisa menyimpulkan bahwa all of us were related with this government and politcs stuff to earn some money.

Karena sumber pendapatan adalah pemerintah dan pemerintah (terutama akhir-akhir ini sebagai akibat demokratisasi) sangat terkait politik, maka, fokus utama kebanyakan orang ambon adalah membicarakan sumber pendapatan mereka serta terlibat dalam semua aktifitas yang sangat kental nuansa politik dan birokrasi itu.Warung kopi menjadi ramai dengan isu politik, kontraktor terkait dengan kontes politik, pejabat dan pegawai terkait dengan lingkaran dukungan politik. Isu dan gosip politik adalah bahasan teramat seksi yang membuat warung kopi penuh.

Politik dan kekuasaan pada akhirnya menjadi bahasan yang terlalu lazim dan seakan-akan mempengaruhi aktifitas semua orang. Kelaziman itu pada akhirnya melahirkan masyarakat politis yang pada tahap lanjutan menjadi skeptikal, kritis dan sinical sebagai akibat pembohongan dan kekecewaan politik yang mereka alami bertahun-tahun dalam proses politik yang sudah membudaya. ( pertanyaan sang teman di fan page Ambon bergerak itu misalnya).

Hanya saja, anehnya dalam tingkat trust politik dan pemerintahan yang rendah itu, entah mengapa kita masih saja terus-terusan bergelimang dalam pilihan untuk menjadi masyarakat politik yang sangat aktif. tentu saja itu tidak buruk karena pada sisi lain this active politics society menunjukan tingkat kepedulian politik dan bisa jadi juga pemahaman politik yang tinggi sebagai buah demokratisasi. Hanya saja pada sisi lain, saya kok cenderung lebih meyakini bahwa kepedulian itu terbangun sebagai akibat terlalu bergantungnya masyarakat pada pemerintah (dalam hal ini; belanja pemerintah) hanya karena seakan-akan tidak ada pilihan lain selain pemerintahan dan politik itu. (*what an absurd phenomenom).

Dalam banyak hal, kita (orang ambon) seperti lupa bahwa kita tak perlu terlalu bergantung pada belanja pemerintah untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan. kita punya pilihan lain untuk maju yang tidak "terlampau" bergantung pada  konsumsi pemerintah dan hanya bergelimang dalam politik saja untuk menggerakan kota ini.

Pilihannya jelas bukan menjadi apolitik, tapi bukankah juga penting bagi masyarakat kota ini dan terutama kepada orang mudanya untuk mulai merubah pola pikir kita dan mulai melihat kedalam dirinya, kedalam potensi dan kreatifitas, enterpreneurship dan pemberdayaan potensi-potensi orang muda ambon sebagai jalan untuk maju.

Sebagai orang muda sudah saatnya bagi kita untuk aware, kalo kecilnya kota ini (*yang sangat potensial untuk model publikasi word of mouth), potensi seni dan alam yang melimpah, hubungan internasional yang kuat juga karakter masyarakat yang pada dasarnya dinamis adalah tanah subur untuk memulai kegiatan-kegiatan ekonomi yang berbasis kreativitas dan enterpreneurship untuk menggerakan kota ini lebih maju.

Kita sebagai orang muda harus ingat kalo we can rid all of this political craps within  our self . Kita sebagai orang muda ambon harus berani mengambil resiko untuk maju dan menguatkan citra diri orang muda ambon sebagai dinamis. Kalo ga begitu, bagaimana kita bisa menyebut diri kita orang muda. Terutama orang muda Ambon.

pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya.
for the truth, kami ga tau cara lain selain JUST DO IT. ya JUST DO IT.
Tak ada cara yang lebih baik untuk maju selain mulai bergerak. Selain mulai melakukan sesuatu. kampanye ambon bergerak didasarkan pada pikiran dasar ini. pikiran dasar untuk mulai bergerak sekarang. mulai berbuat sekarang, dan kemudian belajar dari proses jatuh bangun untuk membangun mimpi itu. untuk melakukan suatu perubahan yang akan berdampak bagi kemajuan.

Arief Budiman, managing director Petakumpet, sebuah agency periklanan terkemuka indonesia yang bermarkas di Jogjakarta semalam mengulang lagi pernyataan yang seringkali saya dengar dikalangan penggiat kreativitas sejak lama. " sistem pendidikan kita terlalu memprioritaskan penggunaan otak kiri dan melemahkan otak kanan (*ingetin gue kalo susunannya salah). Hal itu pada akhirnya membuat pendidikan kita lebih cenderung melahirkan intelektual yang berorientasi karyawan ".

Guys, sudut pandang dan perubahan pola pikir memang adalah alasan yang seringkali terlalu klise untuk digunakan sebagai sebab. But believe me that's the truth. Kita bukannya ga tau kalo persoalannya ada dalam pola pikir kita. Pola pikir yang hadir karena metode pendidikan dan juga lingkungan yang menyuburkan budaya karyawan dan political minded itu. Tapi bukankah itu semua belum membuat kita untuk bergerak. Kita belum berani untuk berbuat dan mencoba hal lain. I Mean c'mon guys the problems is absolutely in our fu**in head !,

So tahu saja memang belum cukup. Kemauan dan kepercayaan diri selanjutnya juga penting untuk merubah pola pikir kita. Lebih dari itu semua, kita juga harus saling mendukung dan percaya. Look for the objectives. Then if u somehow agree with the cause. Follow it.

Ambon bergerak pada dasarnya tetaplah kampanye semangat untuk berbuat dan bergerak sama-sama memajukan diri kita yang pada gilirannya akan memajukan kota ini we have no political intention or relation. We just aware that we need to do something. Itu saja mengapa Ambon bergerak dikampanyekan.

M. Burhanudin B
Penggiat Ambon bergerak.
dari timur indonesia kami bergerak.
majuu , tommaaa !
read more "Why we are so politics in AMBON ?"

Monday, October 25, 2010

Resolusi Molukka Hip Hop Community 10 - 10 - 10


 " Tapi katong seng butuh seribu tentara. Katong membutuhkan sebanyak-banyaknya seniman, para penyair, para komponis, para musisi, para biduan. Republik-republik dan kerajaaan-kerajaan di atas jagat tidak butuh peluru, mortir, granat, meriam, senapan, senjata nuklir. Katong butuh stabilitas solmisasi, katong butuh gitar, drum, biola, tifa, piano, bass, celo, untuk merukunkan manusia dengan manusia. "

Kepada rakyat jelata, para penemu syair dan melodi, para biduan, para musisi dari segala aliran, dari segala tanah dan dari segala lautan !
Dari keindahan bukit Karangpanjang Tanah Amboina, mari katong canangkan dari dalam rongga dada, mari angkat bendera tinggi-tinggi, mari kobarkan satu perjuangan, satu revolusi damai dari negeri ini untuk satu-satunya bumi yang sama-sama katong cintai.
Revolusi damai ini sudah sangat mendesak, supaya katong segera tiba di era damai, era baku-baku sayang dalam kemakmuran bersama. Sebab politik telah gagal merumuskan kebijakan publik, teori ekonomi telah gagal mengantar rakyat jelata kepada penghapusan kemiskinan dan kelestarian sumber daya alam, budaya hukum telah membukakan mata sang dewi keadilan, hak azasi manusia dicabik-cabik seperti burung gagak melahap dendeng-dendeng.

Maka marilah para seniman, mainkan perkusimu, petiklah gitarmu, dentingkan pianomu, geseklah biolamu, tabuhkan tifamu, nyanyikan puisimu, mainkan dengan nada-nada tinggi, nada-nada rendah, nada-nada minor, nada-nada falseto. Mainkan secara piawai, penuh gairah, penuh dinamika. Sebab dari sana akan lahir nada-nada harmoni, sebuah konser yang sangat jujur, konser yang benar, penuh keseimbangan.

Lantas dari atas pentas ini, para seniman akan kembali ke pentas kehidupan yang sebenarnya. Bawalah nada-nada yang jujur dan berani hidup harmoni dari atas panggung ke kehidupan konkrit. Tebarkan itu sebagai mutiara yang sangat indah.

Living As One, adalah tema universal sepanjang masa. Musik telah mempertemukan katong di pentas ini dan musik akan selalu selamanya mempertautkan katong dari berbagai warna suku, bangsa, agama, kelamin, dan pelbagai perbedaan. Katong punya bumi cuma ada satu, tapi bumi itu sedang kacau-balau, tidak karu-karuan.

Tapi katong seng butuh seribu tentara. Katong membutuhkan sebanyak-banyaknya seniman, para penyair, para komponis, para musisi, para biduan. Republik-republik dan kerajaaan-kerajaan di atas jagat tidak butuh peluru, mortir, granat, meriam, senapan, senjata nuklir. Katong butuh stabilitas solmisasi, katong butuh gitar, drum, biola, tifa, piano, bass, celo, untuk merukunkan manusia dengan manusia.

Mari katong pulang kepada kehidupan yang asli, kehidupan seperti di Taman Eden yang damai. Mainkan musik dan puisi di segala waktu, di segala benua. Supaya kalau revolusi kesenian dan kebudayaan ini berhasil, katong semua akan menjadi bangsa yang tersenyum di dalam kemakmuran. Tapi kalau revolusi ini gagal, setidaknya katong telah menyumbangkan sekurang-kurangnya satu nada terindah untuk kemakmuran dan kedamaian di bumi.
Kalau malam ini, anda mendengar musik dari Molukka Hip-Hop Community, maka sesungguhnya revolusi itu telah dimulai.

Salam Perjuangan
Molukka Hip Hop Community
Dicetuskan di Ambon 10 Oktober 2010

n.b : Dibacakan pada saat Ambon Jazz Plus Festifal 10 Oktober 2010 di Taman Budaya Ambon.
read more "Resolusi Molukka Hip Hop Community 10 - 10 - 10"

Thursday, July 15, 2010

Angka Palungku par musik (*band) di Ambon !


Angka palungku par musik (*band) di Ambon, begitu kata-kata ian, vokalis expo yang tampil pada gelaran Sprite d plong di lapangan merdeka ambon. Lebih dari separuhcrowdyang ada didepan panggung lantas mengepalkan tangan kanannya ke udara menerima ajakan itu. momen itu menurut saya penting dalam pergerakan musik di kota ini.

Ian tidak sedang mengkampanyekan perlawanan terhadap penguasa, juga tidak sedang berusaha mengangkat stigma separatisme. Ian sang vokalis panggung terbaik dari band yang dianggap sebagai local hero itu dengan kepalan tangannya yang mengacung tegas ke udara sebenarnya sedang membagi harapannya dengan puluhan ribu pengunjung acara sprite d plong di lapangan merdeka. Ya, dia sedang membagi harapannya untuk kebangkitan musik (*band) di kota ini.

Kalimat diatas mungkin terkesan berlebihan untuk menggambarkan aksi panggung sebuah band lokal yang mungkin ga juga terlalu banyak dikenal diluar komunitas musik kota ini.  Tapi percayalah bagi banyak anak band di kota ambon aksi ian semalam adalah sebuah tindakan penting. Penting, karena untuk pertama kalinya seorang musisi lokal muda kota ini menyampaikan secara langsung keresahannya tentang kemajuan scene musik band Ambon sembari menghadirkan persoalan yang bernama apresiasi kepada penonton.

Apresiasi, dukungan ataupun susunan huruf latin yang berarti kurang lebih sama, percaya ga percaya, sesungguhnya memang menjadi semacam bagian kekecawaan tak tersampaikan dari anak band ambon kepada crowd acara musik yang menyaksikan penampilan musisi lokal muda kota ini. Seorang anak band dalam blognya (www.hardpapeda.blogspot.com) misalnya dengan menyesal menulis sikap crowd itu sebagai sikap patung yang menjengkelkan dan bahkan menghubungkannya dengan ketiadaan musisi lokal muda kota ini yang berhasil maju tidak melalui jalur cepat ajang pencarian bakat televisi.

Membaca tulisan itu dan menghubungkannya dengan peristiwa semalam kita mungkin bisa dengan mudah mengerti keunikan dari tindakan ian malam tadi yang mengacungkan kepalan tangan ke udara. Kita mungkin langsung bisa memahami tindakannya yang menghimbau tepuk tangan penonton, merubah repertoar dengan musik yang lebih gampang dicerna, meminta berulang kali penonton bernyanyi bersama hingga bahkan memotivasi dan bercerita tentang keberhasilan mereka sebagai satu-satunya band ambon yang pernah rekaman di musica studio.

Kita bisa langsung memahami sikap ian sebagai upaya yang jauh dari sikap berusaha sombong melainkan upaya tak kenal lelah untuk memotivasi dan memberi contoh pada crowd bagaimana menghargai musik dan membiarkan musik menguasai ekspressi apreasisi mereka. Baginya dengan begitu, crowd “ mungkin “ akan bisa lebih apresiatif terhadap performa dan eksistensi musisi (*band) lokal muda kota ini.

Ya, ternyata crowdpun memang perlu dididik untuk bisa mengapresiasi musik yang dimainkan performer diatas panggung.

Terlepas dari kualitas performer itu sendiri untuk bisa diapresiasi atau tidak oleh crowd, kualitas crowd sendiri ga bisa disangkal turut menentukan bagaimana mereka mengapresiasi musik yang dimainkan oleh sang performer. Penonton dan musisi yang refrensi musiknya berjarak terlalu jauh bagaimanapun memang akan menemui masalah dalam komunikasi bermusik.

Kita kemudian memang pantas bertanya apakah dengan demikian kualitas crowd kita relatif belum menjangkau kualitas bermusik musisi lokal muda kita. Apakah itu yang menyebabkan crowd kita cenderung tidak apresiatif terhadap penampilan dan eksistensi musisi lokal muda kota ini ?

Wendi putranto editor staf majalah musik terkemuka rolling stone indonesia yang kebetulan menjadi juri malam kemarin menyebut kalau “ dimana saja musisi memang selalu beberapa langkah lebih maju dari crowdnya dalam hal refrensi bermusik”. Maka itu komunikasi dan kompromi lantas menjadi cara menyeimbangkan kesenjangan antara musisi dan crowdnya. Tapi tentu bukan itu saja metodanya.

Diluar kompromi terhadap kesenjangan apresiasi kualitas crowd dan musisi (yang kalau berlebihan justru adalah musuh dalam selimut terhadap upaya membangun kualitas crowd itu sendiri) upaya lain yang berhubungan dengan frekuensi event musik, atau bahkan refrensi musik yang berasal dari kehadiran radio lokal berkualitas dan distribusi majalah musik yang konsisten terhadap perkembangan musik nasional dan juga musik lokal yang ada didaerah adalah juga penting meningkatkan kualitas apresiasi crowd kita terhadap musik.

Dan kalau itu semua tidak maka mau tidak mau, adalah tugas suci musisi lokal untuk mendidik crowdnya hingga crowd bisa mengapresiasi musik dan memberikan dukungannya.

Kurangnya penghargaan terhadap musisi lokal (*band) muda memang bukan persoalan spesial yang terjadi di kota ini saja. Banyak kota lain di Indonesia sebenarnya juga mengalami keresahan yang kurang lebih sama akibat menumpuknya pusat kapital industri musik dan kreatifitas di kota-kota besar saja. (*Pemusatan kapital musik itu pada akhirnya membuat semua anak daerah harus menuju ke kota besar untuk bisa maju dan memperoleh kemegahan. Maka, karena di jakartalah kemegahan itu bermula. Musisi lokal seringkali kurang mendapat tempat di kampung sendiri).

Namun itu tentu bukan alasan untuk menerima begitu saja keadaan dan membuat kita tetap berada dititik yang sama ketika kita bisa bergerak maju kalau kita mau. Apa yang ian himbau dan diangkatnya melalui simbol angka palungku par musik Ambon itu sebenarnya berasal dari keresahan seperti itu. Keresahan sederhana seorang musisi lokal muda yang mewakili banyak musisi lokal muda lain kota ini yang bersemangat, ingin maju dan tak akan menyerah.

Palungku (*kepalan tangan red)  untuk kebangkitan musik lokal (*band) kota ini jelas adalah simbol agar musisi lokal dan masyarakat kota ini bisa saling mendukung. Itu saja caranya untuk maju. Lain tidak.

Angka palungku par musik (*band) di Ambon. Bergerak , Maju !

read more "Angka Palungku par musik (*band) di Ambon !"

KOTAK MUSIK, MUSIK DALAM KOTAK (*tentang Ambon Kota Musik )

  
memperbaiki diri dimulai dengan mengetahui apa yang salah
itulah yang ditulis orang muda ambon ini (every [*] sign  write by admin)

oleh : 
Morika Tetelepta (*member of Molluca Hip Hop Community / MHC)
  Yesterday 13 Juli 2010 at 12:02am

Kota kita bukan kota musik. Kota kita adalah kotak musik.
Ia bernyanyi, bersenandung di dalam kegelapan

Ambon adalah kota musik Indonesia. Jawaban ya atau tidak, itu terserah anda. Tapi bagi Karel Albert Ralahalu jawabannya adalah ya.

Inilah pernyataan Ralahalu di kediamannya ketika menjamu tamu-tamu yang akan memeriahkan festifal Ambon Jazz Plus 2009 di kota Ambon. Hadir pada malam itu sejumlah musisi dari berbagai belahan dunia. Michael Sembello (Amerika Serikat), Wilkins Ramirez (Puerto Rico), Massada (Belanda) dan Soul ID (Indonesia) serta beberapa musisi lokal.

Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada saya, maka jawabannya bukan ia atau tidak. Jawaban saya adalah apakah mungkin Ambon kota musik Indonesia? Saya tidak skeptis dalam hal ini. Tidak juga munafik. Ambon bukan kota musik. Ambon hanyalah kota. tanpa embel-embel musik di belakangnya.


Sebagai kota musik, Ambon –dan juga Ralahalu- harus belajar pada Ghent, Seville, Bologna ataupun Glasgow. Jika kalian bertanya mengapa, maka jawabannya adalah kota-kota tersebut benar-benar kota musik. Kota-kota yang tidak hanya melahirkan pemusik dan karya-karya musik hebat sepanjang perjalanan sejarah meraka. Kota-kota tersebut juga bertanggung jawab atas kelahiran dan pertumbuhan musik di tanah mereka sendiri.

Sebutlah Ghent sebagai sebuah kota kecil di Belgia yang bahkan tidak terlalu menonjol dibandingkan kota-kota Belgia lainnya. Tahun lalu Ghent dinobatkan oleh UNESCO sebagai kota musik dunia. Ghent pantas berbangga dengan pencapaian ini. Bayangkan saja kota yang penduduknya lebih sedikit dari Ambon ini memiliki begitu banyak infrastruktur penunjang bagi pertumbuhan industri-industri musik. Lusinan concert hall ada di sana. Belum lagi sejumlah konsorsium-konsorsium musik, pusat-pusat pendikan yang memberikan muatan-muatan khusus pada dunia musik, ruang-ruang kreasi yang tak terhitung jumlahnya, serta yang tak kalah penting kota ini memberikan dukungan penuh terhadap karya-karya musik yang lahir dari pemusik yang ada. Bukti nyatanya adalah apresiasi yang ditunjukan pada Festival of Flander yang dimeriahkan oleh musisi-musisi dari berbagai genre.

Di atas adalah Ghent dan saya tidak perlu untuk meyebutkan kota-kota musik lainya seperti Seville, Bologna atau Glasgow. Saya yakin kota-kota tersebut akan cukup membuat kita iri jika kota Ambon sebagai kota musik pada akhirnya akan saya perbandingkan di sini. Saya tidak ingin membandingkan Ambon dengan kota-kota di atas. Sebab sudah saya sebutkan bahwa Ambon hanyalah kota, tanpa embel-embel apapun di belakangnya.

Sebenarnya kita bisa seperti Ghent dan yang lain. Yang kita butuhkan sekarang adalah lebih keras berusaha. Lebih banyak berlajar, dan berhenti menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting.

Saya melihat di Ambon ada begitu banyak orang-orang muda yang berbakat. Saya tidak berbohong. Hampir setiap minggu kalian juga melihatnya. Coba bayangkan, apa yang dapat kita lakukan dengan begitu banyak orang-orang muda –yang berlatih dengan serius 2 kali seminggu atau bahkan lebih- yang terlibat dalam group-group vokal dan paduan suara di gereja. Kalian juga tahu bahwa di Ambon kita memilki bagitu banyak orang-orang yang dapat memaikan alat-alat musik baik yang profesional atau bahakan amatir. Paduan-paduan suling dan trumpet yang setiap minggu kita saksikan telah cukup banyak membenarkan pernyataan saya bukan?

Ada sekian banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan. Kita hanya butuh kerja keras. Latihan 2 kali seminggu untuk pentas di gereja tidaklah cukup. Kalian butuh seseuatu yang lebih. Berlatih yang lebih keras bukan hanya untuk tampil di geraja saja.

Saya mengatakan berlatih lebih keras. Ini berarti juga belajar lebih banyak dari apa yang yang sudah diketahui. Mari bersikap seperti orang bodoh. Sebagai penyayi dan pemain musik yang tidak tahu apa-apa. Belajarlah lebih banyak. Dengarkan semua musik yang dapat kalian dengar. Itulah buku-buku pelajaran kalian. Belajarlah bab demi bab. Hafalkan setaiap noktah, maknai tiap irama. Renungkan siang dan malam. Sebab kita semua tidak ingin berakhir hanya di balkon gereja atau pentas-pentas ketika hari-hari besar gerejawi dilakukan. Saya bicara tentang sebuah hal yang besar yang dapat kita capai jika kita belajar lebih banyak. Mari melompat ke level yang lebih tinggi. Saya tahu kalian punya mimpi akan hal-hal baik dan luar biasa. Wujudkan itu dan jangan kerdilkan mimpi kalian.

Apa yang saya sayangkan dari Ambon yaitu kita terlalu banyak menghabiskan energi –juga uang- untuk hal yang tidak terlalu penting dan mendesak. Saya mengenal banyak orang-orang muda yang memiliki bakat bermusik namun hanya berjalan di tempat. Hanya karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang sama sekali tidak bersentuhan dengan musik. Contoh sederhannya adalah hampir semua orang-orang muda di Ambon dengan jenjang umur 15-25 tahun memiliki akun Facebook dan paling sedikit menghabiskan 30-60 menit –atau bahkan lebih- di depan layar monitor di cafe-cafĂ© internet. Dan apa yang dilakukan adalah waktu tersebut hanya dihabiskan dengan Facebook dan hal-hal remeh-temeh lainnya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika setengah saja dari waktu mereka digunakan untuk berselancar di situs-situs musik yang memberikan pelajaran gratis tentang bagaimana membuat musik yang bagus atau mendaptkan sound yang baik dengan proses mixing yang sempurna atau memperkaya pengetahuan dengan mendengar referensi musik yang hebat dari segala penjuru dunia. Inilah faktanya. Terlalu banyak energi dan uang yang dibuang untuk hal yang tidak tepat.

Satu lagi yang saya sayangkan dari kota Ambon adalah pemborosan sejumlah uang dengan nominal besar hanya untuk sebuah institusi Taman Budaya yang perannya tidak bagitu signifikan. Baru-baru ini Taman Budaya Ambon melakukan pertunjukan kebudayaan di negeri kincir angin Belanda. Puluhan orang termasuk pemain musik, penari dan official berbondong-bondong ke sana. Berapa banya uang yang dihabiskan di sana? Saya tidak tahu. Saya tidak iri . Tidak juga menulis karena sakit hati. Saya hanya marah. Marah terhadap Taman Budaya dan juga pemerintah.

Taman Budaya telah menjadi sebuah –katakanlah sebagai- menara gading di puncak Karang Panjang sana. Sebab yang terlihat hanyalah gedung yang sunyi. Ambon sunyi sebab Taman Budaya juga sunyi. Mereka tidak bernyanyi lagi. Mereka sudah berhenti melahirkan karya-karya. Gedung-gedung itu seharusnya menjadi pusat ruang-ruang kreatif tanah ini. Lumbung orang-orang gila yang kreatif. Sekarang yang ada hanya gedung-gedung yang terisi orang-orang gila. Kreatifitasnya entah lari ke mana.

Anehnya, pemerintah tetap saja mengalirkan uang mereka ke sana. Ke gedung-gedung dan orang-orang yang sudah impoten. Padahal jika mereka sempat melihat ke luar tentu mereka akan menyesal telah membuang uang begitu banyak dengan hasil yang berbanding terbalik.

Di luar ada begitu banyak bakat dari orang-orang muda yang siap menjadi gila dan kreatif. Anak-anak di gereja seperti yang saya contohkan di atas misalnya. Jika pemernitah kita serius menjadikan Ambon sebagi kota musik, kenapa bakat-bakat di atas tidak diperhitungkan? Atau jika mereka jeli melihat pertumbuhan seniman-seniman muda dan komunitas-komunitas musik, sastra, teater, dll yang menjamur balakangan ini, tentu mereka akan kaget dan menyesal.

Kenyataannya tentu berbeda jika pemerintah mau serius. Keseriusan yang sama ketika menetapkan Ambon sebagai kota musik juga harus diikuti dengan kseriusan memperhatikan perkembangan musik dan ruang-ruang kreatif yang semakin banyak bertumbuh. Oleh sebab itu mulai dari sekarang berhentilah membuang uang dan energi untuk hal yang tidak kelihatan manfaatnya. Jika Ralahalu mengatakan bahwa Ambon kota musik, maka marilah bersikap serius dengan hal ini. Ciptakanlah ruang-ruang kreatif, apresiasilah karya-karya orang-orang muda Ambon, bangun infrastruktur yang menunjang dan merangsang pertumbuhan seniman-seniman muda. Seriuslah dalam hal ini. Itu saja. Ide sederhana namun punya dampak yang baik.

Sejujurnya, saya bangga dengan seniman-seniman muda di kota Ambon. Mereka tumbuh tanpa bantuan dari pemerintah yang seharusnya menjadi orang tua untuk mengawal dan mendukung pertumbuhan mereka. Seniman-seniman muda tetap bersemangat dengan apa yang mereka miliki, walaupun sangat minim. Saya bangga dengan filosofi yang mendasari semangat mereka berkaya. Memaksimalkan yang minim. Luar biasa, Semangat yang baik untuk sebuah perubahan.

Ambon, 13 Juli 2010

read more "KOTAK MUSIK, MUSIK DALAM KOTAK (*tentang Ambon Kota Musik )"

Wednesday, July 14, 2010

APA ITU AMBON | BERGERAK ?



AMBON |BERGERAK
Bukan organisasi masyarakat |
bukan partai politik |
bukan alat kepentingan perseorangan atau kapital |
bukan geng atau mafia |
bukan cult relegius atau Magis |
bukan nama band atau kelompok paduan suara |
bukan konsultan atau kontraktor |
bukan nama pacar atau toko jualan mesin |

ambon|bergerak adalah sebuah payung, adalah sebuah semangat, adalah sebuah BRAND TAG LINE untuk menegaskan keinginan ANAK MUDA dan GENERASI BARU semua elemen masyarakat kota ini untuk memajukan dirinya secara positif dan kreatif yang pada gilirannya akan juga memajukan kota ini.

ambon|bergerak adalah ide untuk mensinergikan, mengoptimalkan semua potensi AKTIF, KREATIF, INTELEKTUAL dan yang terutama potensi PEDULI semua ELEMEN masyarakat kota (terutama Anak Muda) dalam sebuah semangat gerakan melihat dan menyelesaikan persoalan diri dan lingkungannya, pertama-tama dengan mengenali potensi dan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah itu secara bersama-sama. UNTUK ITU KITA PERLU PERCAYA KITA BISA DAN MAMPU !


ambon|bergerak adalah bahasa nurani generasi baru kota ini yang dengan berani dan tegas menolak menjadi MANJA, menolak menjadi PENGGERUTU yang hanya bisa memprovokasi and then not do anything. Pendeknya GENERASI AMBON BERGERAK adalah generasi yang menolak untuk menjadi generasi NATO
( no action talk only)


ambon|bergerak UTAMANYA SELITERAL KATA ” AMBON BERGERAK ” ITU SENDIRI ” ADALAH TENTANG GERAKAN, TENTANG MAJU KEDEPAN, TENTANG TIDAK TETAP DIAM, TENTANG MENOLAK UNTUK MONOTON, MENGENAI KREATIF, AKTIF DINAMIS DAN GELISAH KETIKA MELIHAT APATISME.
ambon|bergerak adalah ajakan untuk BERGERAK dengan KREATIFITAS DAN KEPEDULIAN.

Maka mari sama-sama bergerak !

Majukan diri, kalesang diri deng kota.

Tommaa !
read more "APA ITU AMBON | BERGERAK ?"